]] Dynamic Blog

Kamis, 03 Mei 2012

Asal Mula Sepatu Sepak Bola



Pada awalnya, pemain boleh mengenakan kasut jenis apa pun di
lapangan. Sepatu dengan alas polos dan sering dipakai untuk kerja
pun diperbolehkan. Sepatu wanita dengan hak agak tinggi bahkan
pernah digunakan lelaki di lapangan hijau.
Kemudian, keluarlah peraturan FIFA pada 1863. Salah satunya
berbunyi, “Yang tidak memakai paku menonjol, lempengan besi, atau getah karet pada sol sepatunya diperbolehkan bermain”.

Aturan itu memunculkan gairah tukang sepatu di Inggris dan Eropa
untuk membuat sepatu khusus sepak bola. Sebelum industri massal
dimulai, tukang sepatu kebanyakan membuatnya dalam skala rumah
tangga.

Pada 1895, Joe dan Jeff Foster mendirikan J.W. Foster and Sons di
Bolton, Inggris, sebelum mengubahnya menjadi Reebok pada 1958.
Sejak Januari 1905, Herman Jansen membuat toko sekaligus bengkel
kasut di rumahnya di Kota Hengelo, Provinsi Gelderland, Belanda
timur. Pada tahun yang sama, muncul pula pembuat sepatu Gola di
Inggris.

Industri sepatu kian menggeliat ketika adik-kakak Adolf dan Rudolf
Dassler membuka pabrik dengan nama Gebruder Dassler Schuhfabrik
pada 1924. Dua bersaudara itu akhirnya pecah kongsi pada 1947.
Adolf membentuk Adidas dan Rudolf menelurkan Puma.

Mulai tahun 1910-an, sepatu dengan nama Cup Final Specials mendunia
berkat “gigi-gigi” kayu di bagian bawah agar pemain mudah
mencengkeramkan kakinya ke tanah. Ujung sepatu dibuat dengan
pola anyaman agar pemain mudah menggerakkan jari kakinya selama
mengontrol bola. Bentuk gigi itu seperti tabung dengan tiga paku
kecil berujung tajam. Pemain harus memakukkan “kuku” itu ke sol dengan palu kecil.

Ukuran gerigi itu pun bervariasi. Pemain akan memilih gigi lebih
panjang untuk bermain di lapangan becek agar tidak mudah
terpeleset. Salah satu tugas wasit dan asistennya adalah mengecek
sol itu sebelum pemain masuk ke lapangan. Jika gigi sepatu terlalu
tajam dan menonjol, pemain tak diperbolehkan masuk.

Kasut-kasut masa silam itu dibuat dari bahan kulit tipis tapi berat.
Modelnya berupa lars panjang atawa boot agar bisa melindungi
engkel pemain dari sepakan lawan. Sepatu baru umumnya keras dan
kaku sehingga sering membuat kaki pemakainya cedera. Agar lebih
lentur dan enak dipakai, sepatu direndam dulu selama beberapa jam
sebelum dikenakan, lalu dijemur sebentar agar kandungan air tidak memberatkan sepatu.

Di era 1920-an, sepatu bola mulai diproduksi secara massal. Salah satu
yang terkenal di era itu adalah Manfield Hotspur. Sepatu kulit ini tidak
hanya diproduksi untuk pemain dewasa, tapi juga untuk semua umur
termasuk anak-anak.

Sepuluh tahun kemudian, muncullah variasi warna tali sepatu. Selain
hitam, ada pula putih, merah, dan lainnya. Di lapangan, pemain kerap
menggonta-ganti tali ini karena proses rendam-jemur sepatu
membuat tali mudah rusak.

Pada 1951, perusahaan sepatu mulai mengendus bisnis baru. Mereka
mencatut nama pemain terkenal untuk nama produknya. Bintang
Inggris saat itu, Stanley Matthews, menjadi nama sepatu keluaran
CWS. Ia mencatatkan diri sebagai pemain pertama yang disewa
sebagai bintang iklan sepatu. Maka, dimulailah komersialisasi sponsor
oleh produsen sepatu kepada pemain, yang saat itu mendapat gaji maksimal 20 poundsterling.

Selain Matthews, pemain-pemain lain mulai mendapat tempat khusus
di hati produsen. Sepatu Bobby Charlton, contohnya, beredar pada
1964. Dua tahun kemudian, muncul kasut bernama Pele, yang dibuat
sesuai tuntutan gaya main lincah ala pemain Brasil itu.

Matthews juga menjadi salah satu pengguna sepatu Continental, seri
terbaru dari Manfield Hotspur dan dikenakan pemain-pemain di Eropa
serta Brasil. Sepatu ini dibuat pada 1950-an hingga 1960-an. Pada
masa itu, sol sepatu juga dibuat dengan bahan karet, plastik, atau
logam dengan pengait sekrup.

Selama itu sepatu sepak bola identik dengan kombinasi warna hitam
atau cokelat dengan strip putih. Puma pernah membuat sepatu putih
pada 1958, tapi baru dipertontonkan oleh pemain Inggris, Alan Ball,
satu dekade kemudian. Kelir lain mulai bermunculan pada 1998, salah
satunya dikenakan oleh pemain Maroko, Moustafa Hadji.

Pada 1995, mantan pemain Liverpool, Craig Johnston, mendesain
sepatu bernama Predator yang diproduksi oleh Adidas. Sepatu ini
menggunakan kulit kanguru sebagai lapisan luarnya yang diklaim
mempermudah lengkung arah bola. Klaim ini membuat sepatu itu laris
manis dan antara lain dipakai eksekutor seperti Zinedine Zidane, David
Beckham, dan Steven Gerrard.

Saat ini produsen membuat beragam sepatu dengan teknologi
mutakhir sesuai kebutuhan pemakainya. Bentuk, desain, dan
bahannya dibuat agar pemain bisa menggerakkan kakinya senyaman
mungkin dan aman. Kuku-kuku di solnya pun tak selalu berjumlah
sama satu dengan yang lain. Gigi-gigi yang awalnya berbentuk bulat
berubah menjadi pilih dan ini sering dianggap gampang melukai lawan.

Sepatu masa kini pun tersedia dalam beragam kelir. Nike, misalnya,
pernah membuat sepatu berwarna genit merah muda, Nike Mercurial
Vapor Rosa. Anda bisa melihatnya pada kaki Nicklas Bendtner dan
Franck Ribery. Warna ngejreng seperti ini memang sangat mencolok
di lapangan. Sebuah gimmick jitu untuk menarik penonton agar
gampang memelototi permainan bintang favoritnya dan mencari tahu kemampuan sepatu yang dipakainya.

Itu pula yang membuat bintang Barcelona, Lionel Messi, menyukai
warna biru terang Adidas F50i yang dikenakannya pada final Liga
Champions 2009. Sepatu dengan lapisan SprintSkin dari bahan
sintentis antiair nan fleksibel ini juga akan menghiasi kaki pemain
ternama pada kualifikasi Piala Dunia 2010.

“Aku paling suka dengan warna F50i, itu adalah warna yang kuat,
memikat mata, dan menarik perhatian. Aku suka sekali itu,” kata
pemain Argentina tersebut. “Bentuk yang ramping, ditambah
sentuhan warna fantastis serta model yang trendi, membuatku
mampu mengeluarkan seluruh potensiku ketika bertanding.”

Lebih dari warna-warni itu, Messi dan semua pemain bola pasti
sepakat bahwa bentuk, bahan, serta desain sepatu amat membantu
mereka mengeluarkan karakter permainan di lapangan. Pada
akhirnya, penonton pun terpikat oleh aksi sang bintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar