]] Dynamic Blog: Mengapa Tuhan menamai agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan agama Islam?

Jumat, 11 Mei 2012

Mengapa Tuhan menamai agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan agama Islam?


 Islam berasal dari bahasa
Arab, yaitu dari akar kata salima
yang berarti selamat, damai, dan
bebas.

Akar kata yang sama melahirkan
beberapa kata yang amat penting
dalam Islam, seperti salam (damai),
Islam (kedamaian), istislam


(pembawa kedamaian), dan taslim
(ketundukan, kepasrahan, dan ketenangan).

Allah SWT memberi nama agama
yang dibawa oleh Nabi SAW itu
dengan agama Islam. Bukan agama
salam (kepasrahan tanpa konsep)
atau agama istislam (yang lebih
mengutamakan kecepatan dan ketegasan dalam memperjuangkan
kedamaian dan kepasrahan).

Kata Islam itu sendiri
mengisyaratkan jalan tengah atau
moderat. Dari segi bahasa saja, Islam
sudah mengisyaratkan jalan tengah,
moderat, dan tentu menolak
kekerasan.

Seorang Muslim sejatinya
mengedepankan kedamaian,
ketundukan, kepasrahan, dan pada
akhirnya mengejawantahkan
ketenangan lahir batin.

Agaknya kurang pas jika panji-panji
Islam dibawa-bawa untuk sesuatu
yang menyebabkan lahirnya
kekacauan dan ketidaknyamanan.
Apalagi jika nama Islam digunakan
untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa.

Sesuai dengan namanya, Islam
adalah agama kedamaian dan
agama kemanusiaan. Penggunaan
kata Islam dalam Alquran dan hadis
sesungguhnya lebih dominan
sebagai feminine word ketimbang masculine word. Alquran sendiri
lebih menonjol sebagai the feminine
book ketimbang the masculine
book.

Bahkan, Alquran melukiskan Allah
lebih menonjol sebagai The Mother
God ketimbang sebagai The Father
God. Perhatikan, Alquran selalu
mengawali surah dengan kalimat
Bismillah al-Rahman al-Rahim yang berarti Allah Maha Pengasih dan
Maha Penyayang. Ini
menggambarkan bahwa Allah lebih
menonjolkan Dirinya sebagai Maha
Pengasih dan Maha Penyayang.

Kini, yang menjadi masalah,
mengapa kelompok minoritas
Muslim begitu leluasa mengklaim diri
dan gerakannya sebagai gerakan
Islam, sementara kelompok
mainstream Muslim tidak berani menyuarakan kelompok mayoritas.
Kini, sudah saatnya mayoritas Muslim
bicara dalam upaya menciptakan
stabilitas dunia dan umat manusia.

Kecenderungan yang terjadi saat ini
adalah minoritas Islam moderat lebih
menekankan Islam dalam konteks
salam, yang lebih bersifat substansial
dan universal. Sementara itu,
kelompok minoritas Islam radikal lebih menekankan Islam dalam
konteks istislam yang menuntut
adanya intensitas dan semangat
akseleratif dalam mewujudkan nilai-
nilai dasar Islam. Kelompok
mayoritas Islam lebih menekankan Islam konteks Islam yang
menekankan aspek kemanusiaan
manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar