Ichwan Persada, salah seorang produser film menganggap bahwa film sebagai karya audio visual, termasuk dokumenter, sejatinya bisa berkomunikasi dengan khalayak dengan jangkauan yang lebih lebar.
Ia mencontohkan sutradara film dokumenter Michael Moore. Film-film yang dianggit Moore membukakan mata bahwa dokumenter juga bisa digarap dengan renyah dan menghibur. "Film seperti Bowling for Columbine hinggaSicko menurut Ichwan adalah karya brilian sekaligus tontonan yang menghibur," paparnya, Sabtu (7/7/2012).
Moore dengan kekuatannya, kata Ichwan melihat hal ironis sehingga bisa ditabrak-tabrakkannya dalam film. Dan filmnya hampir selalu menghipnotis penontonnya.
"Ada kritik sosial yang kuat dan nada getir didalamnya,
namun disaat bersamaan Moore membuat betah penonton melihat filmnya hingga selesai. Ini yang harus ditiru oleh pembuat film dari genre manapun, terutama dokumenter, " katanya.
Ia mengingat saat ditantang Marcella Zalianty memproduser film dokumenter "Cerita Dari Tapal Batas", Ichwan sebagai produser menyatukan visinya terlebih dahulu dengan Wisnu Adi yang bertindak sebagai sutradara. Menurutnya Wisnu punya kekuatan yang bisa menyamai Moore.
"Wisnu punya mata yang jeli melihat hal-hal bersifat humor dibalik isu serius yang coba kita tawarkan. Dalam film ia menanyakan dengan serius satu hal sederhana tahu lagu "Indonesia Raya" gak? Respon penonton termasuk saya adalah tertawa tapi tawa yang miris. Sampai disini boleh dibilang Wisnu berhasil menghibur penontonnya. Dari awal pesan saya cuma satu ke Wisnu : filmnya harus menghibur. Dan ia berhasil menggabungkan sisi keseriusan dan hiburan dalam satu paket, " pujinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar